Other

14 Januari 2017

Penduduk dan Tingkat Pendidikan (Tugas2 PLH 2IB03)

Penduduk dan Tingkat Pendidikan


Menurut tingkat pendidikannya, penduduk dapat dikelompokkan menjadi penduduk yang buta huruf dan yang melek huruf. Penduduk yang melek huruf dapat dikelompokkan lagi menurut tingkat pendidikannya, seperti kelompok tidak sekolah, tidak tamat Sekolah Dasar, tamat Sekolah Dasar, tamat Sekolah Menengah Pertama, tamat Sekolah Menengah Atas, tamat Akademi/Perguruan Tinggi, dan lain-lain.
Tingkat pendidikan berkaitan erat dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di samping itu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi memudahkan penduduk dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidup, sehingga taraf hidupnya selalu meningkat. Sebaliknya, tingkat pendidikan yang rendah dapat menyebabkan lambannya kenaikan taraf hidup dan akibatnya kemajuan menjadi terhambat.
Tingkat pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara di dunia lainnya. Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia adalah sebagai berikut:1) Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Sebagian penduduk masih menganggap bahwa sekolah itu tidak penting.2) Pendapatan penduduk yang rendah menyebabkan anak tidak dapat melanjutkan sekolah karena tidak mempunyai biaya.3) Kurang dan tidak meratanya sarana pendidikan. Sarana pendidikan yang dimaksud, misalnya gedung sekolah, ruang kelas, buku-buku pelajaran, alat-alat praktikum, guru yang berkualitas, dan lain-lain.

Untuk menaikkan tingkat pendidikan penduduk, pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah, antara lain sebagai berikut:
1) Membangun sekolah-sekolah baru terutama SD Inpres di daerah-daerah yang kurang jumlah sekolahnya.
2) Mengadakan perbaikan dan penambahan alat-alat praktikum, laboratorium, perpustakaan, dan buku-buku pelajaran.
3) Menambah dan meningkatkan kualitas guru.
4) Mencanangkan program wajib belajar dan orang tua asuh.
5) Memberikan beasiswa kepada murid-murid yang berprestasi atau yang memerlukan bantuan.



 Jumlah Penduduk Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2015

Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa penduduk bekerja di DKI Jakarta hingga pada bulan Agustus 2015, didominasi oleh mereka yang berpendidikan Sekolah Menengah Atas, SLTA Umum dan SLTA Kejuruan masing-masing sebesar 23,37% dan 18,96%. Sedangkan penduduk bekerja yang berpendidikan Diploma I/II/III hanya mencapai 5,77%, dan pekerja yang berpendidikan S1 ke atas sebesar 19,02%.
 Sementara itu, menurut jenis kelamin, persentase pekerja laki-laki didominasi oleh mereka yang berpendidikan menengah yaitu SLTA Umum dan SLTA Kejuruan, sedangkan pekerja perempuan didominasi oleh pendidikan Universitas (S1 keatas) dan SLTA Umum. Persentase pekerja laki-laki yang memiliki ijazah SLTA Umum dan Kejuruan sebesar 46,43%, ijazah Diploma I ke atas sebesar 22,67%, dan yang memiliki ijazah maksimal tamat SLTP sebesar 30,89%. Persentase pekerja perempuan yang memiliki ijazah SLTA Umum dan Kejuruan sebesar 35,66%, ijazah Diploma 1 keatas sebesar 28,24%, dan yang memiliki ijazah maksimal tamat SLTP sebesar 36,1%.
Penurunan persentase penduduk bekerja pada Agustus 2015 dibandingkan Agustus 2014 terjadi pada semua tingkat pendidikan maksimal tamat SLTA. Penurunan penduduk bekerja tertinggi terjadi pada tingkat pendidikan SLTP dan peningkatan penduduk bekerja tertinggi terjadi pada tingkat pendidikan Universitas. Menurut jenis kelamin terlihat penurunan persentase penduduk bekerja laki-laki terjadi pada semua tingkat pendidikan, sedangkan pekerja perempuan terjadi di tingkat pendidikan SLTP kebawah. Penurunan persentase penduduk bekerja laki-laki tertinggi terjadi pada tingkat pendidikan SLTA Umum sedangkan pekerja perempuan pada tingkat pendidikan SLTP. Peningkatan persentase penduduk bekerja baik laki-laki maupun perempuan tertinggi terjadi pada tingkat pendidikan Universitas.
Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi jumlah penduduk yang bekerja di DKI Jakarta. Namun hingga tahun 2015, jumlah warga bekerja yang berada di tingkat pendidikan SLTA Umum dan Kejuruan lebih banyak daripada warga yang mengenyam pendidikan Universitas. Hal ini menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan yang ada justru belum menyediakan kesempatan yang lebih luas bagi warga yang berpendidikan lebih tinggi. Sementara itu, warga yang berpendidikan di bawah SLTA semakin terbelakang yang ditunjukkan dengan penurunan jumlah warga berpendidikan di bawah SLTA yang bekerja.

KESIMPULAN:

Pendidikan adalah bagian terpenting dalam upaya pembangunan nasional di suatu negara yang dapat mempengaruhi berbagai sektor lainnya, terutama sektor ekonomi. Kemajuan ekonomi di suatu negara bukan hanya didorong oleh pembangunan ekonomi, tetapi juga didorong oleh pembangunan sosial. Salah satu indikator penting dari pembangunan sosial ini adalah kualitas sumber daya manusianya. Dan pendidikan menjadi salah satu instrumen penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan juga merupakan salah satu modal utama yang perlu dipenuhi untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. Dengan modal manusia yang berkualitas, kinerja ekonomi diyakini juga akan lebih baik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar