Penduduk dan Tingkat Pendidikan
Menurut
tingkat pendidikannya, penduduk dapat dikelompokkan menjadi penduduk yang buta
huruf dan yang melek huruf. Penduduk yang melek huruf dapat dikelompokkan lagi
menurut tingkat pendidikannya, seperti kelompok tidak sekolah, tidak tamat
Sekolah Dasar, tamat Sekolah Dasar, tamat Sekolah Menengah Pertama, tamat
Sekolah Menengah Atas, tamat Akademi/Perguruan Tinggi, dan lain-lain.
Tingkat
pendidikan berkaitan erat dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di
samping itu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi memudahkan penduduk dalam
memenuhi berbagai kebutuhan hidup, sehingga taraf hidupnya selalu meningkat.
Sebaliknya, tingkat pendidikan yang rendah dapat menyebabkan lambannya kenaikan
taraf hidup dan akibatnya kemajuan menjadi terhambat.
Tingkat
pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara
di dunia lainnya. Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di
Indonesia adalah sebagai berikut:1) Masih kurangnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya pendidikan. Sebagian penduduk masih menganggap bahwa
sekolah itu tidak penting.2) Pendapatan penduduk yang rendah
menyebabkan anak tidak dapat melanjutkan sekolah karena tidak mempunyai biaya.3) Kurang dan tidak meratanya sarana
pendidikan. Sarana pendidikan yang dimaksud, misalnya gedung sekolah, ruang
kelas, buku-buku pelajaran, alat-alat praktikum, guru yang berkualitas, dan
lain-lain.
Untuk menaikkan tingkat pendidikan
penduduk, pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah, antara lain sebagai
berikut:
1) Membangun sekolah-sekolah baru terutama SD Inpres di daerah-daerah yang kurang jumlah sekolahnya.
2) Mengadakan perbaikan dan penambahan alat-alat praktikum, laboratorium, perpustakaan, dan buku-buku pelajaran.
3) Menambah dan meningkatkan kualitas guru.
4) Mencanangkan program wajib belajar dan orang tua asuh.
5) Memberikan beasiswa kepada murid-murid yang berprestasi atau yang memerlukan bantuan.
1) Membangun sekolah-sekolah baru terutama SD Inpres di daerah-daerah yang kurang jumlah sekolahnya.
2) Mengadakan perbaikan dan penambahan alat-alat praktikum, laboratorium, perpustakaan, dan buku-buku pelajaran.
3) Menambah dan meningkatkan kualitas guru.
4) Mencanangkan program wajib belajar dan orang tua asuh.
5) Memberikan beasiswa kepada murid-murid yang berprestasi atau yang memerlukan bantuan.
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2015
Dari tabel diatas dapat terlihat
bahwa penduduk bekerja di DKI Jakarta hingga pada bulan Agustus 2015,
didominasi oleh mereka yang berpendidikan Sekolah Menengah Atas, SLTA Umum dan
SLTA Kejuruan masing-masing sebesar 23,37% dan 18,96%. Sedangkan penduduk
bekerja yang berpendidikan Diploma I/II/III hanya mencapai 5,77%, dan pekerja
yang berpendidikan S1 ke atas sebesar 19,02%.
Sementara itu, menurut jenis
kelamin, persentase pekerja laki-laki didominasi oleh mereka yang berpendidikan
menengah yaitu SLTA Umum dan SLTA Kejuruan, sedangkan pekerja perempuan
didominasi oleh pendidikan Universitas (S1 keatas) dan SLTA Umum. Persentase
pekerja laki-laki yang memiliki ijazah SLTA Umum dan Kejuruan sebesar 46,43%,
ijazah Diploma I ke atas sebesar 22,67%, dan yang memiliki ijazah maksimal
tamat SLTP sebesar 30,89%. Persentase pekerja perempuan yang memiliki ijazah
SLTA Umum dan Kejuruan sebesar 35,66%, ijazah Diploma 1 keatas sebesar 28,24%,
dan yang memiliki ijazah maksimal tamat SLTP sebesar 36,1%.
Penurunan persentase penduduk bekerja pada
Agustus 2015 dibandingkan Agustus 2014 terjadi pada semua tingkat pendidikan
maksimal tamat SLTA. Penurunan penduduk bekerja tertinggi terjadi pada tingkat
pendidikan SLTP dan peningkatan penduduk bekerja tertinggi terjadi pada tingkat
pendidikan Universitas. Menurut jenis kelamin terlihat penurunan persentase
penduduk bekerja laki-laki terjadi pada semua tingkat pendidikan, sedangkan
pekerja perempuan terjadi di tingkat pendidikan SLTP kebawah. Penurunan
persentase penduduk bekerja laki-laki tertinggi terjadi pada tingkat pendidikan
SLTA Umum sedangkan pekerja perempuan pada tingkat pendidikan SLTP. Peningkatan
persentase penduduk bekerja baik laki-laki maupun perempuan tertinggi terjadi
pada tingkat pendidikan Universitas.
Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa tingkat
pendidikan mempengaruhi jumlah penduduk yang bekerja di DKI Jakarta. Namun
hingga tahun 2015, jumlah warga bekerja yang berada di tingkat pendidikan SLTA
Umum dan Kejuruan lebih banyak daripada warga yang mengenyam pendidikan
Universitas. Hal ini menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan yang ada justru belum
menyediakan kesempatan yang lebih luas bagi warga yang berpendidikan lebih
tinggi. Sementara itu, warga yang berpendidikan di bawah SLTA semakin
terbelakang yang ditunjukkan dengan penurunan jumlah warga berpendidikan di
bawah SLTA yang bekerja.
KESIMPULAN:
Pendidikan adalah bagian terpenting dalam upaya pembangunan nasional di suatu negara yang dapat mempengaruhi berbagai sektor lainnya, terutama sektor ekonomi. Kemajuan ekonomi di suatu negara bukan hanya didorong oleh pembangunan ekonomi, tetapi juga didorong oleh pembangunan sosial. Salah satu indikator penting dari pembangunan sosial ini adalah kualitas sumber daya manusianya. Dan pendidikan menjadi salah satu instrumen penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan juga merupakan salah satu modal utama yang perlu dipenuhi untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. Dengan modal manusia yang berkualitas, kinerja ekonomi diyakini juga akan lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar